AKARPOST.COM – Kepala Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram, Santoso, menjadi salah satu perwakilan Kabupaten Lampung Selatan yang mengikuti Kegiatan Benchmarking Study 2025 ke Tiongkok.
Kegiatan internasional ini digelar oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDTT) bekerja sama dengan Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, Santoso bergabung bersama 21 kepala desa dari berbagai wilayah di Indonesia untuk mempelajari tata kelola pemerintahan desa, pembangunan pedesaan, serta penerapan teknologi pertanian modern.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa menjadi salah satu wakil dari Lampung Selatan untuk ikut serta dalam kegiatan Benchmarking Study 2025 di Tiongkok. Banyak hal yang kami pelajari, terutama tentang pengelolaan desa dan inovasi teknologi pertanian,” ujar Santoso, Selasa (11/11/2025).
Program ini dilaksanakan mulai 30 Oktober hingga 5 November 2025, dengan tujuan utama memperkuat kerja sama pembangunan pedesaan antara Indonesia dan Tiongkok.
Adapun koordinasi kegiatan dilakukan oleh Kemendes PDTT bersama Ministry of Agriculture and Rural Affairs of the People’s Republic of China (MARA).
Kegiatan ini mengunjungi tiga kota besar dan lima desa di Tiongkok, termasuk Beijing, Weifang, Longkou, dan Penglai.
Para kepala desa peserta memperoleh wawasan tentang revitalisasi desa, pengembangan pertanian berbasis sains, sistem irigasi hemat air, serta model peternakan berkelanjutan.
Santoso menuturkan, salah satu pengalaman berharga didapat ketika mengunjungi Desa Shixia dan Desa Cuilingxi, yang berhasil mengembangkan potensi lokal menjadi industri pariwisata dan koperasi pertanian modern.
“Desa di Tiongkok rata-rata hanya berpenduduk 200 kepala keluarga, tapi mereka bisa maju dan mandiri. Pengalaman ini sangat inspiratif, dan insyaallah akan kami terapkan di Desa Triharjo,” tambahnya.
Melalui kegiatan Benchmarking Study ini, Santoso berharap dapat membawa perubahan nyata bagi masyarakat Desa Triharjo, terutama dalam pengelolaan sumber daya, peningkatan kesejahteraan petani, serta pengembangan ekonomi lokal berbasis teknologi pertanian.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam bidang pembangunan pedesaan.






