Selasa, 11 Agu 2026

Relevansi HMI di Usia 79: Refleksi Dies Natalis dan Panggilan Kembali ke Insan Cita

Redaksi
5 Feb 2026 22:32
1 menit membaca

Penulis: Adi Chandra Gutama

DIES Natalis HMI ke-79 bukan sekadar perayaan rutin, melainkan alarm keras bagi seluruh insan HMI dan KAHMI. Di tengah dinamika sosial-politik Indonesia yang kompleks, pertanyaan mendasar mengemuka: masih relevankah HMI hari ini?

Jawabannya terletak pada kesetiaan pada insan cita – visi awal tentang intelektual Muslim yang berkontribusi bagi bangsa. Namun, visi itu memerlukan lebih dari sekadar retorika; ia menuntut keberanian moral dan kejujuran intelektual sebagai fondasi gerakan.

Tanpa komitmen nyata pada prinsip-prinsip ini, perayaan Dies Natalis berisiko menjadi ritual kosong, kehilangan ruhnya dalam euforia seremoni. HMI bisa perlahan terasing dari makna sejarahnya sendiri – sebagai organisasi yang pernah menjadi lokomotif pemikiran dan moral bagi generasi muda Muslim Indonesia.

Kembali ke khittah bukan berarti mundur, melainkan berani menafsirkan ulang nilai-nilai dasar dalam konteks kekinian. HMI harus hadir sebagai ruang dialog kritis, pembela keadilan, dan pengawal nalar publik – bukan sekadar mengejar posisi atau legitimasi kekuasaan.

Jika HMI ingin tetap menjadi relevan bagi Indonesia, maka jalan satu-satunya adalah revolusi diri: mengedepankan integritas di atas kepentingan, keberpihakan pada rakyat kecil, dan keteladanan dalam tindakan. Saatnya membuktikan bahwa warisan 79 tahun bukan beban, tetapi energi untuk melompat lebih jauh, dengan kejernihan pikiran dan keteguhan hati.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x