Demokrasi Sejati di Lampung

Selasa, 2 September 2025 - 17:23 WIB

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Oleh: Junaidi Ismail, SH | Ketua Umum Poros Wartawan Lampung

SELAMAT untuk para mahasiswa dan para pemangku kebijakan di Provinsi Lampung yang telah mensukseskan Aksi Mahasiswa di tanah berjuluk Sai Bumi Ruwa Jurai. Unjuk rasa yang digelar ribuan mahasiswa pada Senin, 1 September 2025, berakhir damai dan kondusif. Peristiwa ini layak menjadi teladan, bukan hanya bagi Lampung, tetapi juga bagi seluruh daerah di Indonesia.

Aksi mahasiswa di Lampung memberi pesan moral yang tegas, menyampaikan aspirasi tidak harus disertai kerusuhan atau tindakan anarkis. Bila aspirasi yang dibawa mahasiswa diterima dengan baik oleh para pemimpin, maka demonstrasi sudah bisa dianggap berhasil. Tidak perlu ada kaca pecah, fasilitas umum rusak, atau bentrokan fisik yang justru merugikan masyarakat luas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sering kali ada upaya provokasi untuk menggiring opini seakan-akan demo damai itu sia-sia. Ada yang berujar, “Kalau damai, itu sama saja dengan halal bihalal atau cukup kirim perwakilan audiensi.” Narasi seperti ini justru melemahkan semangat demokrasi yang sesungguhnya. Faktanya, mahasiswa di Lampung membuktikan sebaliknya, demo damai bisa kuat, bermartabat, dan justru lebih mengena.

Upaya segelintir pihak untuk menodai aksi damai ini memang sempat terjadi. Tiga remaja penyusup kedapatan membawa bom molotov. Sebuah skenario berbahaya yang bisa memicu kericuhan. Namun mahasiswa dan massa menunjukkan kedewasaan. Alih-alih terpancing emosi, mereka segera mengamankan para penyusup dan menyerahkannya ke aparat.

Sikap ini membuktikan bahwa mahasiswa benar-benar memahami esensi perjuangan, menjaga marwah aspirasi tanpa terjebak dalam anarki. Bahkan, anggota TNI yang berjaga turut membantu memastikan provokasi tersebut gagal.

Situasi sempat memanas. Ribuan massa berdesakan, aparat berjaga, dan ketegangan mulai terasa. Namun semua berubah ketika Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, tiba di lokasi. Ia tidak sekadar hadir untuk memberi pernyataan resmi dari jauh. Ia langsung masuk ke tengah kerumunan, berdiri di hadapan mahasiswa, dan meminta kawat berduri dibuka.

“Saya minta Kapolres dan tim membuka kawat berduri. Kita kondusif, saya bersama mahasiswa,” serunya lantang.

Kalimat sederhana itu seketika mencairkan suasana. Mahasiswa yang semula berdiri berdesakan kompak duduk, mendengarkan orator, dan bersiap berdialog. Dari sinilah aksi yang tadinya berpotensi ricuh berubah menjadi forum musyawarah akbar di jalanan.

Dialog pun mengalir. Mahasiswa menyampaikan tuntutan, gubernur memberi respon, DPRD ikut menyimak. Semua berlangsung disaksikan ribuan pasang mata.

Gubernur Mirza dalam pernyataannya menegaskan, “Aspirasi mahasiswa adalah suara rakyat. Tugas kita mendengar, bukan membungkam. Tapi harus dengan damai, tanpa kekerasan.”

Ia juga menekankan agar aparat mengedepankan pendekatan humanis, bukan represif. “Jangan ada luka, jangan ada korban. Kita ingin mahasiswa pulang dengan kepala tegak, dan pemerintah mendengar dengan hati terbuka,” tegasnya.

Apa yang terjadi di Lampung bukanlah hal kecil. Ia menunjukkan bahwa demokrasi sejati bukan soal adu kekuatan, melainkan ruang dialog untuk mencari solusi. Semua pihak memainkan peran penting, mahasiswa yang tertib, aparat yang sigap, pemerintah yang hadir langsung.

Hasilnya? Aksi damai yang berhasil menyampaikan aspirasi tanpa korban jiwa, tanpa kerusakan, tanpa luka.

Inilah wajah demokrasi yang seharusnya menjadi contoh. Bukan demokrasi yang penuh bentrokan dan saling curiga, melainkan demokrasi yang membuka ruang dialog, merangkul perbedaan, dan mengutamakan kedewasaan.

Lampung hari itu telah memberi pelajaran berharga bagi bangsa. Bahwa demo tidak identik dengan chaos. Bahwa pemimpin sejati bukan yang bersembunyi di balik tembok gedung, melainkan yang berani hadir di tengah rakyatnya. Bahwa mahasiswa bukan sekadar penggerak massa, melainkan penjaga nurani bangsa.

Terbukti, demokrasi damai yang beradab, bermartabat, dan menyejukkan. Semoga kisah dari Sai Bumi Ruwa Jurai menjadi teladan nasional, agar setiap suara rakyat selalu sampai dengan cara yang indah, tanpa amarah, tanpa luka, dan tanpa kekerasan.

Berita Terkait

Dugaan Pemerasan RSUDAM, Saksi Sebut Terdakwa Tak Pernah Minta Uang
Penyusunan Juknis SPMB 2026/2027 untuk Pemerataan Akses Pendidikan
LSM RUBIK dan GEMBOK Akan Gelar Aksi Lanjutan di Kejati Lampung
Dugaan Pungli di Lingkungan Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung
LSM Soroti Janji Walikota terkait Banjir yang Tak Kunjung Usai
GPN Lampung Temukan Monopoli Anggaran di SMAN 2 Bandar Lampung
Dugaan KKN Anggaran Rp12 Miliar di BPN Bandar Lampung, LSM SIMULASI Desak Audit APH
Wow!!! Anggaran Rp10 Miliar Didominasi Snack dan ATK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Jumat, 20 Maret 2026 - 20:04 WIB

Pimpinan TRINUSA Ajak Kader Perkuat Silaturahmi dan Semangat Perjuangan

Jumat, 20 Maret 2026 - 04:41 WIB

Pemerintah Pangkas Anggaran K/L 2026, Program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih Dipastikan Aman

Sabtu, 14 Maret 2026 - 16:00 WIB

Gubernur Lampung Apresiasi Program Prabowo Rp839 Miliar untuk Konservasi Way Kambas

Sabtu, 14 Maret 2026 - 11:03 WIB

Musrenbang Pesawaran 2026, Pemprov Lampung Alokasikan Anggaran Infrastruktur hingga Puluhan Miliar

Jumat, 13 Maret 2026 - 17:53 WIB

GPN Lampung Soroti Kenaikan LHKPN Kadis PSDA Budhi Darmawan Capai 37,15 Persen

Jumat, 13 Maret 2026 - 15:45 WIB

Pemkab Pringsewu Mulai Cairkan THR ASN dan PPPK 2026, Total Anggaran Rp29,2 Miliar

Jumat, 13 Maret 2026 - 15:18 WIB

Kejari Pringsewu dan BPKAD Teken MoU Perdata dan Tata Usaha Negara

Jumat, 13 Maret 2026 - 07:56 WIB

Gubernur Lampung Buka Musrenbang RKPD Pringsewu 2027

Berita Terbaru

Lampung

Pungutan Uang Komite Tiap Bulan SDN 1 Fajarisuk

Senin, 16 Mar 2026 - 19:26 WIB

Exit mobile version