Bandar Lampung – Memasuki satu tahun masa kepemimpinan Wali Kota Bandar Lampung, sorotan tajam justru datang dari kalangan masyarakat sipil. Ketua LSM SIMULASI Lampung, Agung Irawansya, menilai kinerja orang nomor satu di kota tersebut masih jauh dari harapan, terutama dalam penanganan masalah klasik banjir, Jum’at 6 Maret 2026.
Agung menyoroti bahwa persoalan banjir yang terjadi di berbagai titik di Bandar Lampung terus berulang tanpa ada solusi konkret dari pemerintah kota. Padahal, janji untuk membenahi drainase dan infrastruktur kebencanaan kerap digaungkan saat masa kampanye.
“Kami mengevaluasi selama satu tahun ini. Fakta di lapangan, banjir masih menjadi hantu tahunan yang tidak pernah dituntaskan. Sementara anggaran terus mengucur, tapi genangan air masih melumpuhkan aktivitas warga di beberapa kecamatan,” ujar Agung dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pernyataannya, Agung Irawansya juga menyindir gaya kepemimpinan yang dinilainya kurang fokus pada kebutuhan dasar warga.
“Jangan hanya bicara terkait umroh atau seremoni keagamaan yang sifatnya pribadi dan temporer. Tapi selesaikan dulu urusan banjir di mana-mana. Ini kan menyangkut keselamatan dan ekonomi rakyat,” tegasnya.
Pernyataan ini merujuk pada beberapa kegiatan wali kota belakangan ini yang lebih banyak menyita perhatian publik terkait kegiatan keagamaan, sementara di sisi lain, warga di daerah rawan banjir seperti sekitar Way Halim dan Kedaton masih mengeluh saat hujan deras turun.
Menurut catatan LSM SIMULASI, setidaknya ada 15 titik genangan parah yang terjadi dalam setahun terakhir. Agung menduga lemahnya koordinasi antara Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjadi penyebab utama lambannya respons.
“Harusnya ada peta rawan banjir yang diperbarui dan tindakan preventif, bukan hanya menunggu laporan warga lalu datang terlambat,” imbuhnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Humas Pemerintah Kota Bandar Lampung belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik pedas dari LSM SIMULASI tersebut. Warga berharap evaluasi satu tahun ini bisa menjadi momentum bagi wali kota untuk membuktikan diri, apakah slogan “Bandar Lampung Maju” benar-benar menyentuh kebutuhan warganya yang paling dasar: bebas dari banjir.






