Penulis: Adi Chandra Gutama
DIES Natalis HMI ke-79 bukan sekadar perayaan rutin, melainkan alarm keras bagi seluruh insan HMI dan KAHMI. Di tengah dinamika sosial-politik Indonesia yang kompleks, pertanyaan mendasar mengemuka: masih relevankah HMI hari ini?
Jawabannya terletak pada kesetiaan pada insan cita – visi awal tentang intelektual Muslim yang berkontribusi bagi bangsa. Namun, visi itu memerlukan lebih dari sekadar retorika; ia menuntut keberanian moral dan kejujuran intelektual sebagai fondasi gerakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tanpa komitmen nyata pada prinsip-prinsip ini, perayaan Dies Natalis berisiko menjadi ritual kosong, kehilangan ruhnya dalam euforia seremoni. HMI bisa perlahan terasing dari makna sejarahnya sendiri – sebagai organisasi yang pernah menjadi lokomotif pemikiran dan moral bagi generasi muda Muslim Indonesia.
Kembali ke khittah bukan berarti mundur, melainkan berani menafsirkan ulang nilai-nilai dasar dalam konteks kekinian. HMI harus hadir sebagai ruang dialog kritis, pembela keadilan, dan pengawal nalar publik – bukan sekadar mengejar posisi atau legitimasi kekuasaan.
Jika HMI ingin tetap menjadi relevan bagi Indonesia, maka jalan satu-satunya adalah revolusi diri: mengedepankan integritas di atas kepentingan, keberpihakan pada rakyat kecil, dan keteladanan dalam tindakan. Saatnya membuktikan bahwa warisan 79 tahun bukan beban, tetapi energi untuk melompat lebih jauh, dengan kejernihan pikiran dan keteguhan hati.






